Minggu, 08 April 2018

EDISI ILMU RESEP - INJEKSI


Macam-Macam Cara Penyuntikan

1. Injeksi intrakutan ( i.k / i.c ) atau intradermal



Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya, digunakan untuk diagnosa. Volume
yang disuntikkan antara 0,1 - 0,2 ml, berupa larutan atau suspensi dalam air.

2. Injeksi subkutan ( s.k / s.c ) atau hipodermik


Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar, volume yang
disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. 

Umumnya larutan bersifat isotonik, pH netral, bersifat depo (absorpsinya lambat). 
Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 - 4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase), bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ".

3. Injeksi intramuskuler ( i.m )


Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. 
Injeksi dalam bentuk larutan, suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat, yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. 
Volume penyuntikan antara 4 - 20 ml, disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.

4. Injeksi intravenus ( i.v )



Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. 
Bentuknya berupa larutan, sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh, sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. 
Dibuat isitonis, kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah); volume antara 1 - 10 ml. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml, disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". 
Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida, jernih, isotonis.
Injeksi i.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida
Injeksi i.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen.


5. Injeksi intraarterium ( i.a )



Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi, volume antara 1 - 10 ml, tidak boleh mengandung bakterisida.


6. Injeksi intrakor / intrakardial ( i.kd )


Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus, tidak boleh mengandung
bakterisida, disuntikkan hanya dalam keadaan gawat.


7. Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intrasisternal (i.s), intradural ( i.d ), subaraknoid


Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak (antara 3 -4 atau 5 - 6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. 
Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat, meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. Jaringan syaraf di daerah
anatomi disini sangat peka.


8. Intraartikulus


Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. Bentuk suspensi / larutan
dalam air.


9. Injeksi subkonjuntiva


Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. Berupa suspensi / larutan, tidak
lebih dari 1 ml.



10. Injeksi intrabursa


Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan
suspensi dalam air.

11. Injeksi intraperitoneal ( i.p )


Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat ; bahaya infeksi besar

12. Injeksi peridural ( p.d ), extradural, epidural


Disuntikkan ke dalam ruang epidural, terletak diatas durameter, lapisan penutup
terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.


#ILMU RESEP TEORI#Jilid III ( untuk kelas III )#Departemen Kesehatan RI#Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan#Sumber Daya Manusia Kesehatan#Pusdiknakes#2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EDISI OBAT TRADISIONAL - KAMPO

KAMPO                                                        O bat herbal tradisional Jepang ( obat Kampo ) memperoleh fitur unik ...